Selasa, 17 Juli 2007

Tennis Club

Bank BPD Kalsel Tennis Club

Budaya

Festival Perahu Naga
Banjarmasin, 2006

Jumat, 13 Juli 2007

tertawakan diri


Cukup menjual memang, ketika banyak kalangan mencoba memberikan tanggapan terhadap dinamika berbangsa kita dalam bentuk komedi atau dagelan, entah itu sebagai peluang bisnis atau hanya sekedar arena untuk mencuri hati orang lain. Hal ini sangat biasa kita lihat dari aksi theatrikal para mahasiswa dalam berbagai aktivitas demo, yang dapat langsung mentas tanpa sutradara, pengarah gaya, serta bahkan tanpa naskah dan latihan. Bentuk lain dapat kita nikmati bahkan dengan pingkal dan tangis kelucuan yang luar biasa atas tayangan “Republik BBM” dari sebuah stasiun TV swasta nasional, maupun komedi radio berjaringan nasional yang menghadirkan negara karikatural “Sketsa Indonesia”.
Negara kita memang sudah beberapa waktu ini menghalalkan berbagai aktivitas yang bertujuan untuk menyampaikan kritik, pendapat, opini, dan bahkan “hujatan” baik terhadap negara maupun pejabat negara dalam koridor demokrasi bertanggung jawab. Jadi dalam hal ini, kita diberikan kesempatan secara terbuka dan bebas untuk mengekspresikan diri dalam memaknai berbagai aktivitas dimaksud.
Tidak ada yang akan menuduh subversif, jika kita terpingkal-pingkal bahkan sampai lupa diri bahwa ternyata kita sedang menertawakan polah “sebagian dari diri kita” sendiri, pada saat dialog-dialog penuh plesetan mengiringi kita mengarungi “dunia khayal” refleksi dinamika bangsa. Pun tidak ada yang membredel radio kesayangan kita, saat kita asyik menikmati hujatan ringan yang dibalut kata-kata kaya tafsir terhadap sikap konyol sebagian pejabat bangsa ini.
Walhasil, kian hari, kian hebat dan beragam aktifitas serupa yang memberikan aroma lain dari sebuah kebijakan, situasi, skandal, dan bahkan atas tragedi bangsa yang seharusnya memberikan pemaknaan yang lebih mendalam akan kuasa illahi atas apapun yang berlaku dimuka bumi. Bahkan bagi sebagian kita, ada harap dan rasa penasaran yang tinggi akan tema up to date apa yang akan menjadi topik kemunculan opera berikutnya, hingga memunculkan perasaan minder ketika dagelan bangsa ini terlewatkan meski hanya satu episode.
Nuansa ini adalah sepotong bagian indah demokrasi, yang menghadirkan kanvas lain sebagai media mengkritisi berbagai hal, ketika media utama yang selayaknya dijadikan rel komunikasi mengalami hambatan, atau setidaknya terasa lambat perannya sebagai konduktor maksud dan harap. Diluar keterlibatan dan peran langsung sebagai pelakon lawak dadakan inipun, sebagian kita cukup menikmatinya meski kadang merasa miris mengingat pihak yang seharusnya lebih terpanah makna jurus hiperbola ini justru kadang menjadi “sponsor” utama dibalik layar (bahkan tidak sadar diri karena gelap oleh kalkulasi bisnis).
Itulah bangsa kita, bangsa dengan sekian ragam kebijakan tidak populer, fenomena, skandal, tragedi, intrik, kolusi, dan banyak lagi hal-hal menarik yang dapat menjadi potensi sangat berlimpah ruah bagi bahan skrip dagelan pengantar minum kopi petang. Bangsa yang mempunyai banyak penyikap handal dan strategis meski tidak mampu melakukan aksi nyata apapun atas sikap yang dilontarkan. Siapa yang cepat bersikap dan bereaksi, lalu seolah demi “massa” mengusung sikapnya dalam bentuk-bentuk atraktif, maka publik akan serta merta mengurai opini kiri-kanan yang berujung pada semakin kusutnya uraian benang merah.
Sekali lagi itulah bangsa kita, namun dibalik ini semua, berharap kita juga sadar diri pada kenyataan, bahwa inilah sebenarnya diri kita. Sehingga ada benarnya ketika seorang pakar menyatakan dalam teori “cermin diri” (looking glass self) yang digagasnya, bahwa untuk melihat diri kita, maka kita dapat berkaca pada masyarakat yang merefleksikan secara gamblang tingkah polah kita. Jadi paket kritik, saran, dan hujatan yang dikemas dalam dagelan, komedi, atau apapun namanya yang layak ditertawakan, tawakanlah karena dibalik itu juga ternyata ada penawar luapan emosi yang memberi imbangan kendali diri. Namun kita mestinya juga lebih mampu dalam mengaktualisasi tindakan koreksi atas lelucon yang kita anggap konyol dan tak pantas terjadi.

Kamis, 12 Juli 2007

..mohon maaf...


Junichiro Koizumi, Perdana Menteri Jepang di hadapan kepala-kepala negara dan pemerintahan negara-negara Asia Afrika, meminta maaf atas agresi dan pemerintahan kolonial yang pernah menyebabkan kerusakan dan penderitaan rakyat di negara-negara Asia. Untuk itu, Jepang menyediakan bantuan pembangunan resmi (official development assistance) sebesar 0,7 persen dari pendapatan nasionalnya untuk membantu penghindaran bencana, dan langkah-langkah rekonstruksi di Asia, sebagai bentuk penyesalan dan penghargaan atas pemberian maaf negara-negara tadi.
Perdana Menteri Korea Selatan Lee Hae-chan, meminta maaf karena telah bermain golf di hari libur nasional Korea Selatan, karena pada saat yang bertepatan telah terjadi aksi pemogokan karyawan kereta api nasional. Atas hal ini Lee meminta maaf karena tindakan yang tak semestinya dia lakukan. Permohonan maaf Lee disampaikannya sekaligus menyampaikan permintaan pengunduran dirinya kepada Presiden Roh Moo-hyun.
Dinegara kita, permohonan maaf kadang sangat santun diucapkan sebagai pengejawantahan adat ketimuran yang terkenal, namun dibalik atau sesudah permohonan disampaikan, sikap atau perbuatan yang dilakukan kurang relevan sebagai ungkapan penyesalan untuk kemudian melakukan sesuatu yang lebih baik, koreksi, atau perbuatan baik sebagai balasan maaf telah diterima.
Mengatasnamakan budaya ketimuran, sebagian kita ternyata telah membuat adab ini sebagai sesuatu yang lumrah, tanpa makna, sehingga enteng untuk disampaikan tanpa kewajiban memikul beban yang harus dipertanggungjawabkan sebagai bagian dan konsekuensi permohonan maaf. Padahal menurut seorang pakar, permohonan maaf minimal menggambarkan rasa tanggung jawab (take responsibility) kita atas apa yang telah diperbuat, menjelaskan latar belakang kenapa terjadi (explain), menunjukkan rasa penyesalan (show your regret), dan disempurnakan dengan melakukan perbaikan/mengganti atas sesuatu rusak/mengecewakan dan atau memberikan sebuah hadiah (repair the damage).
Sebagai ilustrasi, kita pasti masih ingat diera tahun 70-80 an, ketika dihadapkan pada tontonan layar kaca “channel tunggal” yang mengasyikan, kadang keasyikan kita harus pupus dan terpotong, bukan oleh iklan, tapi oleh ilustrasi warna-warni diiringi musik instrumental dan tulisan berisi permohonan maaf yang sangat terkenal “mohon maaf, kerusakan bukan pada pesawat televisi anda”. Tidak bisa kita marah, atau protes atas permohonan maaf ini, selain mematikan tv bagi yang tidak menerima maaf, atau cukup sabar menunggu kembalinya tayangan bagi pemirsa yang menerima permohonan maaf tersebut dengan lapang dada.
Pada saat ini, simaklah permohonan maaf yang disampaikan oleh pihak Pertamina atas terjadinya kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) premium dan minyak tanah yang terjadi di Kalimantan Selatan. Permohonan maaf ini lahir setelah melalui berbagai episode panjang, mulai dari luberan kendaraan bermotor yang menunggu antrean BBM tanpa kejelasan, debat kusir yang tidak berkesudahan untuk melemparkan masalah penyebab kelangkaan, teriakan para pelaku ekonomi mikro kecil karena tidak bisa menjalankan usaha, maupun permohonan-permohonan keterbukaan data pasokan BBM oleh sebagian wakil rakyat, hingga demo individual para “pemancing di air keruh” dengan melansir maupun menimbun BBM secara diam-diam.
Walhasil, ketika maaf disampaikan, luberan antrean BBM di SPBU memang tidak terlihat, tapi disudut-sudut kota, ibu-ibu berkerudung lusuh dan bapak-bapak bertopi purun rombeng masih terlihat suntuk menatap jirigen kosong bertambat di seutas tali rafia yang berjejer rapi bak kereta api, kemana minyak tanah??...permohonan maaf tadi belum memenuhi kaidah yang diharapkan….
Belum lagi puas dibuat pusing dengan urusan minyak tanah untuk menggerakkan produksi rumah tangga penyandang periuk nasi, samar-samar muncul khabar bahwa kita akan disuguhi kembali dengan pembagian shift jatah penerangan oleh PLN. Lagi-lagi pihak Perusahaan Listrik Negara menyampaikan permohonan maaf, maaf kepada masyarakat atas ketidaknyamanan, atas penggiliran jatah pemadaman listrik selama 30 hari untuk alasan klasik…pemeliharaan….
Kembali kita sulit menolak permintaan maaf ini, mau protes turun kejalan dengan yel-yel penentangan paling cuma akan mendapat gempuran aparat. Mau gugat clash action, hanya buang-buang waktu dan tenaga. Mau putus hubungan pun malah seperti menggali kubur sendiri. Mau tidak mau, suka tidak suka, terima tidak terima, kembali kita nikmati semua dengan kesabaran, dengan harapan bahwa ini hanya sementara. Meski kadang terpikir pula, seandainya kita juga boleh balas mohon maaf; mohon maaf untuk tidak bayar tagihan listrik dengan alasan pemeliharaan…..memelihara supaya perut tetap bisa diisi dengan layak.
Benar, permintaan maaf disampaikan sebagai pertanda bahwa sipeminta telah menempatkan diri dalam sikap yang terbuka terhadap upaya untuk memperbaiki situasi, dan pengakuan bahwa ini dilakukan karena sesuatu hal yang tak terhindarkan. Tapi maaf yang disampaikan secara rutin, tanpa penyesalan dan peningkatan kualitas/perbaikan atas sesuatu yang telah dimaafkan, hanya akan menjadi kata pengantar tanpa makna, pertanda dekadensi moral.
Kembali ke kasus “channel tunggal” di atas…..ada pelajaran yang bisa kita petik dari sana. Saat itu kita tidak punya pilihan selain menerima maaf atau tidak…karena tidak ada bedanya, meski kita ditarik pungutan atas kenikmatan program yang disajikan. Pihak penyelenggara siaran bisa seenaknya menyampaikan maaf tanpa harus mengganti maaf tadi dengan sesuatu yang bernilai bagi penikmatnya. Namun saat ini, di era ketika tontonan dapat dinikmati gratisan, sangat jarang kita menemukan permohonan maaf gangguan siaran tadi…..bukan karena kita berdemo, atau stok maaf kita yang berkeringan…tapi lebih karena kita sudah tidak dibelenggu lagi dengan “channel tunggal”. Jadi, mau siaran rusak, mau ngak’ minta maaf….silakan, emang gue pikirin….kita cukup tekan remote control dan sekian banyak tayangan menantang lainnya akan mencumbu dengan tampilan apik dan menarik…..
Akhirnya, mungkin sudah saatnya kita juga tidak perlu berdebat kusir dan pusing sembilan keliling dengan pengurangan kuota BBM oleh Pertamina, atau padatnya jadwal pemeliharaan mesin yang dilakukan PLN sehingga perlu libur menikmati penerangan secara bergantian……jika skema penyediaan kebutuhan penting kita ini tidak dikuasai oleh pemain tunggal. Dalam kasus hilangnya permohonan maaf si “channel tunggal”, era persaingan telah membuahkan sesuatu yang berharga bagi penikmatnya, karena semua penyedia akan berlomba untuk memberikan yang terbaik agar tidak ditinggalkan…….orang tidak akan peduli dengan permasalahan yang dialami penyedia, karena masih mempunyai alternatif pilihan lain……jadi silakan mohon maaf,…..karena kerusakan terjadi bukan pada pesawat televisi kami…….

Rabu, 11 Juli 2007

O Z Z T A T I O N

sangat berarti jika kunjungan anda bermakna