Jumat, 13 Juli 2007

tertawakan diri


Cukup menjual memang, ketika banyak kalangan mencoba memberikan tanggapan terhadap dinamika berbangsa kita dalam bentuk komedi atau dagelan, entah itu sebagai peluang bisnis atau hanya sekedar arena untuk mencuri hati orang lain. Hal ini sangat biasa kita lihat dari aksi theatrikal para mahasiswa dalam berbagai aktivitas demo, yang dapat langsung mentas tanpa sutradara, pengarah gaya, serta bahkan tanpa naskah dan latihan. Bentuk lain dapat kita nikmati bahkan dengan pingkal dan tangis kelucuan yang luar biasa atas tayangan “Republik BBM” dari sebuah stasiun TV swasta nasional, maupun komedi radio berjaringan nasional yang menghadirkan negara karikatural “Sketsa Indonesia”.
Negara kita memang sudah beberapa waktu ini menghalalkan berbagai aktivitas yang bertujuan untuk menyampaikan kritik, pendapat, opini, dan bahkan “hujatan” baik terhadap negara maupun pejabat negara dalam koridor demokrasi bertanggung jawab. Jadi dalam hal ini, kita diberikan kesempatan secara terbuka dan bebas untuk mengekspresikan diri dalam memaknai berbagai aktivitas dimaksud.
Tidak ada yang akan menuduh subversif, jika kita terpingkal-pingkal bahkan sampai lupa diri bahwa ternyata kita sedang menertawakan polah “sebagian dari diri kita” sendiri, pada saat dialog-dialog penuh plesetan mengiringi kita mengarungi “dunia khayal” refleksi dinamika bangsa. Pun tidak ada yang membredel radio kesayangan kita, saat kita asyik menikmati hujatan ringan yang dibalut kata-kata kaya tafsir terhadap sikap konyol sebagian pejabat bangsa ini.
Walhasil, kian hari, kian hebat dan beragam aktifitas serupa yang memberikan aroma lain dari sebuah kebijakan, situasi, skandal, dan bahkan atas tragedi bangsa yang seharusnya memberikan pemaknaan yang lebih mendalam akan kuasa illahi atas apapun yang berlaku dimuka bumi. Bahkan bagi sebagian kita, ada harap dan rasa penasaran yang tinggi akan tema up to date apa yang akan menjadi topik kemunculan opera berikutnya, hingga memunculkan perasaan minder ketika dagelan bangsa ini terlewatkan meski hanya satu episode.
Nuansa ini adalah sepotong bagian indah demokrasi, yang menghadirkan kanvas lain sebagai media mengkritisi berbagai hal, ketika media utama yang selayaknya dijadikan rel komunikasi mengalami hambatan, atau setidaknya terasa lambat perannya sebagai konduktor maksud dan harap. Diluar keterlibatan dan peran langsung sebagai pelakon lawak dadakan inipun, sebagian kita cukup menikmatinya meski kadang merasa miris mengingat pihak yang seharusnya lebih terpanah makna jurus hiperbola ini justru kadang menjadi “sponsor” utama dibalik layar (bahkan tidak sadar diri karena gelap oleh kalkulasi bisnis).
Itulah bangsa kita, bangsa dengan sekian ragam kebijakan tidak populer, fenomena, skandal, tragedi, intrik, kolusi, dan banyak lagi hal-hal menarik yang dapat menjadi potensi sangat berlimpah ruah bagi bahan skrip dagelan pengantar minum kopi petang. Bangsa yang mempunyai banyak penyikap handal dan strategis meski tidak mampu melakukan aksi nyata apapun atas sikap yang dilontarkan. Siapa yang cepat bersikap dan bereaksi, lalu seolah demi “massa” mengusung sikapnya dalam bentuk-bentuk atraktif, maka publik akan serta merta mengurai opini kiri-kanan yang berujung pada semakin kusutnya uraian benang merah.
Sekali lagi itulah bangsa kita, namun dibalik ini semua, berharap kita juga sadar diri pada kenyataan, bahwa inilah sebenarnya diri kita. Sehingga ada benarnya ketika seorang pakar menyatakan dalam teori “cermin diri” (looking glass self) yang digagasnya, bahwa untuk melihat diri kita, maka kita dapat berkaca pada masyarakat yang merefleksikan secara gamblang tingkah polah kita. Jadi paket kritik, saran, dan hujatan yang dikemas dalam dagelan, komedi, atau apapun namanya yang layak ditertawakan, tawakanlah karena dibalik itu juga ternyata ada penawar luapan emosi yang memberi imbangan kendali diri. Namun kita mestinya juga lebih mampu dalam mengaktualisasi tindakan koreksi atas lelucon yang kita anggap konyol dan tak pantas terjadi.

Tidak ada komentar:

O Z Z T A T I O N

sangat berarti jika kunjungan anda bermakna