Entah karena lagi hangatnya perdebatan tentang pemanasan global dan perubahan iklim, atau memang sedang tumbuh kesadaran yang amat sangat, sehingga beberapa waktu terakhir banyak aktifitas penyelamatan lingkungan yang salah satunya bermuara kepada upaya penyelamatan sungai, atau dalam bahasa perencanaan pemerintah daerah disusun sebagai kegiatan normalisasi sungai. Kegiatan yang dilakukan oleh multi stakeholder ini ada yang berupa aksi bedah sungai, ada aksi lomba bersih-bersih sungai, ada aksi main perahu karet rame-rame, dan terakhir ada konser amal untuk penyelamatan sungai.
Upaya ini memang sudah menjadi perhatian yang sangat serius untuk di tindaklanjuti. Normalisasi sungai dalam bahasa perencanaan pemda, memang sangat segera harus dilakukan, walau dapat dikatakan agak terlambat. Tengok saja, bagaimana Franky Sahilatua hanya dalam waktu sekejap mampu melukiskan kerusakan sungai dalam sebuah lagu khusus yang diciptakannya untuk konser amal penyelamatan sungai.
Tapi ada hal menggelitik yang tertinggal dan mungkin alpa dibenahi dari sederetan upaya-upaya penyelamatan sungai di atas. Ternyata, masih ada diantara kita yang sepertinya telah kehilangan makna besar akan arti sungai. Cukup sedih kiranya, karena tanpa sengaja saya menyimak satu statement pejabat yang menyatakan bahwa ”julukan Banjarmasin sebagai kota “seribu sungai” sudah tidak relevan, karena banyak sungai yang hilang dan mati, sehingga mungkin kurang dari seribu”. Sedih bukan hanya karena memang benar fakta telah membuktikan bahwa banyak sungai yang telah hilang dan mati, serta hanya menyisakan kenangan bagi anak cucu kita.
Tetapi sedih alang kepalang, karena ternyata masih ada pemikiran sempit yang tidak mengerti makna, bahwa seribu sungai tidak hanya identik dengan jumlah sungai, tetapi lebih dalam lagi bahwa seribu sungai melambangkan tidak terhitungnya (besarnya) makna dan arti sungai, sehingga “seribu” sebenarnyapun belum mampu mewakili kompleksitas makna sungai bagi masyarakat dan kota Banjarmasin.
Kehilangan pemaknaan ini pantas saja kalau pada gilirannya berdampak kepada melencengnya orientasi pembangunan kota yang seharusnya menempatkan sungai sebagai aset dan potensi besar penunjang perkembangan kota. Silakan rasakan bagaimana salah satu contoh langkah pembangunan yang berorientasi kepada daratan telah menyebabkan kian pudarnya eksotisme Pasar Terapung. Silakan rasakan bagaimana tragisnya proses evolusi dari sungai menjadi parit, kemudian menjadi selokan/got, dan akhirnya lenyap, tergerus oleh congkaknya pembangunan jalan-jalan dan bangunan-bangunan kota. Silakan tunggu mungkin pada suatu saat Museum Rekor Indonesia (MURI) akan menasbihkan sungai Martapura sebagai tempat sampah terpanjang di dunia.
Seiring upaya fisik penyelamatan dan normalisasi sungai, selamatkan juga pergeseran pandangan kita akan makna besar sungai bagi kehidupan masyarakat dan kota. Sungai adalah jiwa yang menjadi ruh kota bandar ini, sungai adalah sejarah dan perjuangan yang menjadi lambang keperkasaaan putra-putri terbaik banua dalam mempertahankan tumpah darah dari tirani penjajahan, sungai juga adalah ibu yang melahirkan kota Bandarmasih.
Sungai sumber penghidupan masyarakat yang menjadi hidangan berkah anugerah illahi, sungai adalah cinta yang melahirkan kearifan dan kesehajaan. Sungai adalah pemersatu yang mengalirkan damai dalam harmonisnya silaturahmi, dan sungai adalah rumah yang menyuguhkan tentram ketenangan. Sungai adalah teman yang menghantarkan langkah kehidupan, sungai adalah semangat yang menyokong mencapai harapan. Sungai adalah kita.
Kembalikan makna ini dalam lubuk hati kita, dan silakan hitung dan pastikan akankah seribu telah mencukupi hitungan makna tadi. Kembalikan sungai sebagaimana dia telah mengalirkan langkah kehidupan kita, dan dirikan jati diri Banjarmasin sebagai kota seribu sungai, dalam bingkai makna yang sebenarnya.
..."Air sungai telah terluka, oleh kemiskinan kesalahan.
Air sungai telah tercemar, oleh mercury kimia lainnya.
Di sungai itu masa laluku
Disungai itu masa depanku
Aku bermain, aku kesekolah
Jadi dewasa dengan sungai itu
Dari leluhur sampai anakku"...
Demikian beberapa bait syair dari lagu yang belum sempat diberi judul dan dinyanyikan Franky Sahilatua dalam Konser Musik Amal untuk Penyelamatan Sungai tanggal 2 Desember lalu. Lagu yang dilelang dan terjual lebih dari 20 juta rupiah ini, membuat kita menjadi malu. Malu karena meski sekejap, Franky lebih arif dalam menangkap makna sungai bagi kita.
/telah dipublikasikan pada Harian Banjarmasin Post, edisi 13 Desember 2007/
Kamis, 13 Desember 2007
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
O Z Z T A T I O N
sangat berarti jika kunjungan anda bermakna
Tidak ada komentar:
Posting Komentar